Suro' Baca, Tradisi Khas Umat Muslim Makassar Menyambut Ramadan


Makassar, IDN Times - Suro' Baca atau Assurommaca terus dilestarikan sebagian masyarakat muslim di Makassar, Sulawesi Selatan, hingga kini. Suro' Baca adalah tradisi yang biasa dilakukan jelang Ramadan.

Tradisi ini biasanya digelar setiap akhir Sya'ban atau sepekan sebelum Ramadan. Keluarga yang masih memegang teguh tradisi ini akan berkumpul di salah satu rumah. 

Di sana, mereka menyediakan berbagai hidangan mulai dari makanan yang terbuat dari ayam hingga ikan, dan berbagai hidangan tradisional khas Makassar. Mereka juga berdoa bersama sebelum hidangan yang disajikan disantap bersama-sama.

Baca Juga: Mengenal Blangikhan, Tradisi Adat Masyarakat Lampung Sambut Ramadan

1. Tradisi Suro' Baca dilaksanakan setiap keluarga

Suro' Baca, Tradisi Khas Umat Muslim Makassar Menyambut RamadanIlustrasi Ramadhan (IDN Times/Sukma Shakti)

Laode Wowo, warga Makassar yang masih mempertahankan tradisi Suro' Baca mengaku melaksanakan tradisi ini karena sudah turun-temurun dari keluarganya. Karena merasa menghormati keluarga terdahulu, maka dia dengan senang hati melanjutkan tradisi itu.

"Itu memang tradisi orang-orang tua dulu. Jadi kita ikuti saja tradisinya. Kalau kita mau hilangkan juga nanti dibilang tidak bisa, karena memang orang tua begitu dulu," kata Wowo kepada IDN Times, Jumat, 9 April 2021.

Wowo mengatakan tradisi Suro' Baca digelar setiap tahun jelang Ramadan. Dalam pelaksanaannya, acara itu hanya diikuti keluarga terdekat yang digelar di dalam rumah. 

"Tidak ada orang lain. Cuma keluarga kita sendiri. Kalau orang tua kita meninggal masih dibacakan Al Fatihah kalau kita mimpikan orang tua kita datang. Kalau tidak, pergi di masjid kasih sumbangan uang di masjid, baru kita niatkan untuk orang tua," kata dia.

Selain acara baca doa, kata Wowo, ada juga ziarah makam yang dilakukan setiap tahun. "Tapi kita tidak minta-minta di kuburan. Kita kalau pergi membersihkan sambil baca-baca doa untuk keluarga yang sudah meninggal," kata dia.

2. Suro' Baca bermakna filosofis sebagai persiapan diri menyambut Ramadan

Suro' Baca, Tradisi Khas Umat Muslim Makassar Menyambut RamadanIlustrasi Al-Quran (pixabay.com)

Tradisi Suro' Baca disebut memiliki makna filosofis yang kuat. Sebab menyangkut kesiapan diri dan jiwa setiap individu untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar, Kementerian Agama RI Sabara Nuruddin mengatakan, Ramadan merupakan bulan yang sakral bagi umat muslim. Dia menilai, Suro' Baca merupakan hal penting bagi umat muslim yang mengamalkannya untuk menyambut sakralitas Ramadan dengan membacakan doa keselamatan.

"Membaca doa keselamatan, menolak bala yang mungkin menimpa di bulan suci Ramadan. Jadi yang paling penting adalah mempersiapkan diri agar siap untuk memasuki bulan suci Ramadan. Itu filosofinya," kata Sabara.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor's picks

3. Akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal

Suro' Baca, Tradisi Khas Umat Muslim Makassar Menyambut RamadanWarga melintas di area Pantai Losari saat matahari terbenam di Makassar, Sulawesi Selatan. (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Sabara mengungkapkan masih banyak hal yang perlu didalami dari tradisi Suro' Baca, termasuk soal sejarah bagaimana awal mula munculnya tradisi ini. Dia menilai, tradisi Suro' Baca diprediksi sudah ada sejak zaman sebelum Islam masuk di Makassar.

"Kalau melihat pola Islamisasi di tanah Makassar itu memang ada tradisi-tradisi yang sudah ada sebelum Islam. Ketika Islam masuk, mengalami proses yang disebut dengan proses islamisasi," katanya.

Sabara mencontohkan tradisi membaca Galigo atau mantra-mantra lokal yang sudah ada sejak dulu. Pada zaman dulu, mantra-mantra lokal dibacakan dalam berbagai momen penting siklus hidup, seperti pesta panen hingga masuk rumah baru.

"Kemudian oleh pendakwah Islam, pembacaan Galigo diganti dengan pembacaan barzanji. Upacaranya tetap ada, tapi mengalami proses yang disebut dengan islamisasi," katanya.

Menurut Sabara, belum diketahui persis momentum apa yang melatarbelakangi munculnya tradisi pembacaan Galigo. Namun yang jelas, kata dia, tradisi itu sudah ada sebelum Islam datang dan tetap dilestarikan para pendakwah.

"Namun dikomparasikan dengan Islam sehingga doa-doanya sudah doa yang banyak mengakomodir doa-doa dari Islam dan peletakan momen yaitu di bulan Sya'ban jelang bulan suci Ramadan. Jadi ini sebenarnya proses kalau mau dibilang akulturasi antara budaya lokal dan Islam," katanya.

Baca Juga: Masjid Tua Katangka, Saksi Sejarah Masuknya Islam di Sulsel

4. Menghadapi tantangan zaman

Suro' Baca, Tradisi Khas Umat Muslim Makassar Menyambut RamadanIlustrasi perempuan berdoa (IDN Times/Fikriyah Nurshafa)

Meski Suro' Baca masih dilestarikan hingga sekarang, tapi bukan tidak mungkin nilai-nilai tradisi itu akan luntur akibat perkembangan zaman. Kata Sabara, tradisi Suro' Baca masih bisa tetap bertahan asalkan masyarakat tetap mau melestarikan.

"Pasti mengalami penyesuaian, perubahan sesuai dengan proses zaman. Pasti sudah ada pengaruh unsur-unsur modernlah. Tapi saya melihat substansi dari Suro' baca itu tetap bisa dipertahankan meskipun tidak lagi sesemarak dulu," katanya. 

Sabara yakin masih ada kelompok-kelompok yang masih mempertahankan tradisi Suro' Baca. Tapi di satu sisi, akan ada pula generasi muda muslim di Makassar yang akan meninggalkan. Menurut dia, penyebabnya bisa karena pengaruh perkembangan zaman atau faktor lainnya.

"Atau kalau sikap hidup yang lebih modern, praktis, dan efisien, mungkin tradisi itu akan ditinggalkan," katanya.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Mandi Limau Jelang Ramadan di Tapanuli Tengah



Sumber : https://www.idntimes.com/news/indonesia/ashrawi-muin/mengenal-suro-baca-tradisi-khas-makassar-menyambut-ramadan-nasional

Makassar.Online Kumpulan berita terkini harian Makassar dan Sekitarnya terbaru dan terlengkap dari berbagai sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.