BONEPOS.COM, BULUKUMBA – Seni lukis menggunakan kanvas dan cat warna sudah anti mainstream. Seorang pemuda asal Kabupaten Bulukumba menggeluti seni lukis menggunakan api. keren dong.
Sore itu, di rumah yang lumayan luas, saya disambut dengan meja besar dan panjang. Di atasnya tersusun papan, mesin pemotong kayu, dan potongan triplek yang sudah berbentuk kotak. Di sudut lain terpampang beberapa lukisan wajah seorang wanita. Ruang tamu itu diubah menjadi galeri pribadi.
Pemiliknya seorang pemuda, asal Togambang, Kelurahan Matekko, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Bahrul Huda nama pemuda itu.
Pria gondrong tersebut mengaku, menggeluti seni lukis menggunakan api sudah sejak tahun 2019 lalu.
Sama seperti melukis menggunakan kanvas dan cat air, Ilu sapaannya, harus melewati drama belajar dan mengembangkan ketertarikannya dalam seni lukis yang menggunakan api. Apalagi teknik ini memerlukan konsentrasi lebih karena harus menstabilkan tingkat panas pada alat lukisnya.
Teknik melukis menggunakan api itu, bekennya disebut Pyrography. Teknik melukis menggunakan alat khusus berupa pena yang mengeluarkan bara api. Panas dari api inilah yang menghasilkan bara, warna hitam gelap yang digunakan untuk membuat garis atau bentuk sesuai keinginan si pelukis.
Lagi-lagi zaman yang serba canggih ini selalu memberi ragam manfaat untuk semua kalangan.
Ilu bercerita mengetahui teknik pyrography dari hasil berselancar di YouTube. Kemudian memulai belajar otodidak sejak November 2018.
Sebelum memiliki alat lukis berupa pena itu. Pemuda berambut panjang ini sebelumnya menggunakan alat lukis yang ia rakit sendiri.
"Awalnya saya pakai jarum yang disambungkan ke kabel cas hape. Untuk menghantar panas. Sehingga bisa menghasilkan bara api. Teknik itu saya lakukan sampai 5 bulan sejak awal belajar. Hanya saja memang hasilnya kurang halus, karena tekanan panasnya sulit diatur," kenangnya, saat ditemui Boneposcom, di kediamannya, beberapa hari lalu.
Media lukisnya yang berupa tripleks dan papan, didapatkan dari limbah bekas pakai gedung-gedung yang sudah rampung dibangun. Lalu diolahnya. Waktu itu keliling kota Bulukumba untuk mencari alat lukis menjadi kebiasaan baru yang menyenangkan bagi Ilu.
"Yah, namanya juga tidak pakai modal kak. Jadi harus putar otak. Apalagi awalnya saya tidak dapat dukungan dari orang tua," ucap pemuda alumni MAN 2 Kabupaten Bulukumba itu.
Alat-alat yang harus dipersiapkan dalam melukis, yakni triplek, papan, alat lukis berupa pensil yang bisa diatur suhu panasnya. Kemudian finishing, lukisan harus diberi pernis. Selain agar terlihat lebih rapi, pernis juga bisa membuat kayu atau triplek yang menjadi media lukis lebih awet dan tidak mudah tergores.
Hasil lukisan dari teknik api ini sangat detail. Apik. Dan seperti hidup. Lekukan-lekukan senyum di wajah pada lukisan terlihat seperti nyata. Itu tidak mudah. Butuh konsentrasi dan mood yang bagus. Agar hasil gambarnya bisa memuaskan klien.
"Untuk menghasilkan satu buah lukisan wajah dikerjakan paling cepat satu hari. Tapi kalau sedang badmood, bisa-bisa selesai hingga seminggu. Apalagi yang paling susah itu melukis wajah. Karena harus dijiwai, biar maksimal hasilnya," kata Ilu tersenyum lebar.
Untuk satu buah lukisannya, Ilu memasang harga Rp250 hingga Rp300 ribu. Tergantung tingkat kesulitannya. Apalagi semenjak bersepeda menjadi trend di Bulukumba. Dirinya kecipratan manfaat, banyak klien yang memesan tumbler terbuat dari kayu yang ditambah ukiran nama.
Selain memberi manfaat baginya. Menggeluti seni lukis juga telah menjadi hobi baru yang dibayar dan dapat membantu prerekonomian keluarganya. Dan, kini tak banyak harapnya. Pemuda kelahiran 22 September 1999 itu, bermimpi karyanya bisa dikenal hingga ke manca negara. (*)
Sumber : https://www.bonepos.com/?p=75077
Makassar.Online Kumpulan berita terkini harian Makassar dan Sekitarnya terbaru dan terlengkap dari berbagai sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Sosmed Kami