Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta menilai wajar saja apabila ada personel intel kepolisian yang menyusupi aksi demonstrasi tolak Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja di Provinsi Jambi, Selasa, 20 Oktober 2020.
"Sangat wajar jika ada intelijen dalam unjuk rasa tersebut, justru fungsinya adalah mencegah supaya tidak terjadi ancaman dan gangguan pada unjuk rasa," ujar Stanislaus saat dihubungi Tagar, Kamis, 22 Oktober 2020.
Terutama untuk mencegah terjadinya infiltrasi dari pihak tertentu.
Menurut Stanislaus, langkah perwira intel yang mencegah terjadinya pemukulan terhadap mahasiswa sudah benar.
Baca juga: Baku Hantam Brimob Vs Sabhara, Mabes Polri: Salah Paham Dikit
Musababnya intel tersebut, kata Stanislaus, bertugas mencegah dampak yang lebih besar meskipun akhirnya dia sendiri malah menjadi sasaran terkena bogem mentah.
Stanislau Riyanta via Tagar TV (Foto: Tagar/Dok Tagar TV) Lebih lanjut dijelaskannya, intelijen bekerja secara tertutup. Salah satu caranya adalah dengan tidak mengenakan seragam kepolisian, tujuannya supaya bisa lebih dekat dengan subjek yang akan diamati.
"Dalam unjuk rasa peran intelijen paling utama memang melakukan deteksi dini dan cegah dini ancaman dalam unjuk rasa tersebut, bisa sebelum dan pada saat unjuk rasa. Pada saat unjuk rasa juga perlu peran intelijen, terutama untuk mencegah terjadinya infiltrasi dari pihak tertentu," ucap dia.
Baca juga: Polda Jambi Ikut Bantah Ada Polisi Nyamar Malah Baku Hantam
Sebelumnya, beredar narasi dalam sebuah video yang menjadi viral di media sosial bahwa mahasiswa yang mengenakan jaket almamater hijau itu adalah seorang polisi yang sedang menyamar dan memprovokasi pedemonstran.
Namun, Polri mengklarifikasi unggahan tersebut dan memastikan bahwa pria yang diamankan benar-benar seorang mahasiswa lantaran bertindak anarkistis dalam demonstrasi di Jambi.
Video tersebut viral, salah satunya diunggah oleh akun Twitter @Lini-ZQ. Terlihat polisi dari Satuan Sabhara yang mengenakan pakaian anti huru-hara tampak memukul ke arah kelompok yang menyeret mahasiswa. Namun, pria lain yang berpakaian preman langsung melerainya.
Pria berpakaian preman itu merangkul anggota Sabhara yang melakukan pemukulan hingga terjadi kericuhan karena ada agenda perut ditendang menggunakan dengkul.
"Perwiraku itu," teriak seorang pria dalam rekaman video tersebut. "Brimob itu...". []
Berita terkait
Sumber : https://www.tagar.id/pengamat-wajar-intelijen-susupi-aksi-demo-uu-cipta-kerja
Makassar.Online Kumpulan berita terkini harian Makassar dan Sekitarnya terbaru dan terlengkap dari berbagai sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Sosmed Kami