Rapid Test Massal Dinilai Kurang Efektif Tekan Penyebaran COVID-19


Makassar, IDN Times - Sejak Selasa (12/5) kemarin, Pemprov Sulsel gencar melakukan tes cepat atau rapid test massal di dua daerah, yaitu Kota Makassar dan Kabupaten Gowa setelah mendapatkan bantuan alat rapid test dari PT Vale. Sasarannya adalah pedagang pasar tradisional, juru parkir, hingga pengemudi ojek online. 

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menjelaskan bahwa rapid test massal ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Rapid test massal masih akan berlangsung hingga dua hari ke depan dengan harapan mampu menjaring orang yang dianggap berpotensi terinfeksi COVID-19.

"Pasar ini kasihan kalau tidak dibuka. Makanya kita cepat sisir. Kalau kita sudah pastikan semua yang di dalam ini tidak ada masalah dengan COVID-19, baru kita bikin protapnya. Jadi ada protokol kesehatan. Di dalam (harus) jaga jarak, ada pengawas supaya tidak bergerombol, supaya ekonomi juga jalan. Apalagi sekarang mau lebaran," kata Nurdin saat meninjau rapid test massal di Pasar Sentral, Rabu (13/5).

Warga yang hasil rapid-nya reaktif positif akan langsung diisolasi di hotel sesuai dengan program Duta COVID-19 Pemprov Sulsel. Di hotel inilah mereka akan mendapatkan perbaikan gizi juga dibekali dengan materi-materi agar nantinya mereka menjadi duta atau edukator bagi masyarakat di sekitarnya.  

1. Rapid test hanya mendeteksi antibodi bukan untuk mendiagnosis

Rapid Test Massal Dinilai Kurang Efektif Tekan Penyebaran COVID-19Rapid test massal di Makassar, Selasa (12/5). Humas Pemkot Makassar

Menanggapi rapid test massal ini, pakar epidemiologi Universitas Hasanuddin, Ansariadi, menilai metode tes cepat ini kurang efektif jika tujuannya adalah untuk memutus mata rantai atau menekan penyebaran COVID-19. Sebab rapid test hanya mendeteksi antibodi dan bukan untuk mendiagnosis.

Ansariadi menjelaskan bahwa tujuan rapid test adalah untuk mendeteksi mereka yang positif COVID-19 dengan mendeteksi antibodi tubuh sebagai respons terhadap COVID-19. Hanya saja, antibodi biasanya diproduksi oleh tubuh mulai dari beberapa hari atau satu minggu setelah adanya infeksi. 

"Antibodi biasanya terdeteksi pada minggu kedua setelah timbulnya gejala klinis. Dengan demikian, mereka yang terdeteksi positif COVID-19 hasil rapid diagnostik test kemungkinan mendeteksi mereka yang fase akhir dari mereka yang terinfeksi dan tidak mampu mendeteksi fase awal dari terjadinya infeksi, di mana periode ini penting untuk mencegah penularan. Belum lagi kita belum mengetahui sensitivitas rapid test tersebut," kata Ansariadi.

2. Rapid test belum tentu mampu menekan penularan COVID-19

Rapid Test Massal Dinilai Kurang Efektif Tekan Penyebaran COVID-19Rapid test massal di Makassar, Selasa (12/5). Humas Pemprov Sulsel

Menurut Ansariadi, jika tujuan rapid test massal ini bertujuan untuk mendapatkan mereka yang positif kemudian diisolasi, maka kecil kemungkinan untuk mampu menekan penularan COVID-19. Karena jika sensitivitasnya rendah, maka positif palsunya juga tinggi. 

Mereka yang dinyatakan positif oleh rapid test, lanjutnya, sebetulnya negatif kalau diperiksa menggunakan RT PCR. Rapid test hanya akan mendeteksi sebagian kecil dari mereka yang positif. Mereka yang tidak terdeteksi tetap akan menjadi sumber penularan.

"Saya belum mendapatkan referensi kalau ada daerah lain yang sukses mencegah penularan dengan melakukan rapid test massal. Tetapi yang biasa dilakukan adalah test massal untuk pengambilan swab untuk pemeriksaan RT PCR yang menjadi standar diagnostic test untuk COVID-19," katanya.

Baca Juga: Pemkot Makassar Bakal Gelar Rapid Test Massal di Pasar Tradisional

3. Sebaiknya meningkatkan kemampuan RT PCR

Rapid Test Massal Dinilai Kurang Efektif Tekan Penyebaran COVID-19Rapid test massal di Makassar, Selasa (12/5). Humas Pemprov Sulsel

Ansariadi mengerti bahwa tujuan pemerintah memang untuk melakukan penyaringan, akan tetapi sensitivitas yang rendah juga tidak banyak membantu karena hanya sedikit dari mereka yang betul-betul positif berdasarkan hasil rapid test.

Karenanya ia menyarankan agar pemerintah sebaiknya memperbanyak test menggunakan RT PCR karena inilah yang telah menjadi standar. Caranya, kata dia, adalah kemampuan laboratorium yang diperkuat, mesin  untuk RT PCR ditambah serta mereka yang OTG, ODP, dan PDP segera dites agar tidak terlalu lama menunggu. 

"Orang biasanya menggunakan rapid test untuk kepentingan surveillance, terutama di daerah yang labnya tidak tersedia. Kalau lab di Makassar kan tersedia untuk pemeriksaan COVID-19, tinggal diperkuat. Kalau bisa alatnya ditambah, semua kebutuhan reagen dipastikan tersedia," kata Ansariadi.

4. Rapid test massal hanya untuk penyaringan

Rapid Test Massal Dinilai Kurang Efektif Tekan Penyebaran COVID-19Rapid test massal di Makassar, Selasa (12/5). Humas Pemprov Sulsel

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Ichsan Mustari mengakui bahwa rapid test bukan pemeriksaan diagnosis pasti untuk mengetahui apakah seseorang positif terinfeksi COVID-19. Untuk diagnosis pasti, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan tes swab.

Dia menjelaskan, rapid test hanyalah sebuah metode pemeriksaan untuk menyaring atau memisahkan secara umum orang-orang yang ada dalam satu kelompok yang dinilai mempunyai potensi untuk tertular COVID-19. Hal itulah yang mendorong dilakukannya rapid test massal di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.

"Rapid test ini akurasinya tentu bisa memisahkan secara umum pasien-pasien yang punya potensi dan yang tidak punya potensi. Tetapi jangan dibandingkan dengan swab karena memang berbeda dan tentu kita juga tidak bisa.  Sebenarnya swab itu adalah cara satu-satunya tetapi tidak ada negara di dunia ini yang punya kemampuan untuk melakukan swab ke semua warganya," ujar Ichsan via telekonferensi, Selasa (12/5).

Baca Juga: Jadwal dan Tempat Rapid Test Massal COVID-19 di Kota Makassar



Sumber : https://sulsel.idntimes.com/news/sulsel/ashrawi-muin/rapid-test-massal-dinilai-kurang-efektif-tekan-penyebaran-covid

Makassar.Online Kumpulan berita terkini harian Makassar dan Sekitarnya terbaru dan terlengkap dari berbagai sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.